Senin, 13 Mei 2013

Review : The Wolf and The Dove (Terjemahan Gagasmedia) by Kathleen E. Woodiwiss



Tiga dari lima bintang ~

The Wolf and The Dove, Gairah Sang Serigala (Gagasmedia)

Ga mesti review pake bahasa inggris kan ya? huehehe ketauan banget ga jago bahasa inggrisnya :P 

Seperti biasa, sebelum ke inti review, aku mau curhat sedikit mengenai novel dewasa terjemahan ini. 

Ga tau kenapa dari dulu aku ga hobi baca novel terjemahan. Mungkin pernah beberapa kali baca, tapi itu pun bukan novel-novel tebal seperti novel ini. Setiap kali ke toko buku pun aku ga pernah berniat menengok ke rak novel terjemahan yang biasanya covernya ga terlalu menarik. 

Dan, novel The Wold and The Dove ini bukan aku beli dengan uangku sendiri, tetapi hadiah dari Gagasmedia sepaket sama buku Kelakar Tanpa Batas. 

Waktu paket itu sampai ke rumah aku langsung kaget. Ga nyangka kalau Gagas bakal ngasih novel terjemahan yang tebal begini. Awalnya sih rada-rada ga niat gitu mau baca. Tapi sehari setelah novel ini sampai ke rumah, aku mesti pergi ke Tangerang menjenguk sepupu yang baru lahiran, dan karena aku tau pasti bakal bosan selama di sana, jadi kubawa saja novel ini sebagai teman bacaan. 

Setelah dibaca-baca, eh ternyata seru juga lho :)

Sebagai prolog, novel ini menceritakan sebuah mitos patung besi berbentuk serigala di dekat perbatasan Skotlandia yang konon katanya merupakan seorang Ksatria Muda yang tak terkalahkan bernama The Wolf. Dan, Woden (raja para dewa) menghukum The Wolf karena ia berani membunuh manusia dan menentang takdir. 

Aku kira novel ini bakal bergenre fantasi karena prolog tersebut tapi mengingat Gagas sudah tidak pernah menerbitkan novel bergenre seperti itu lagi, aku berpikir ulang. 

Jadi, sebenarnya novel ini seperti membetulkan mitos pada prolog tersebut. Seperti patung Malin Kundang; legendanya bilang kalo patung itu merupakan patung seorang pemuda bernama Malin Kundang yang dikutuk karena durhaka pada Ibunya. Nah, siapa yang tau kan kalo cerita itu benar atau salah? Mungkin suatu hari nanti ada penulis yang bakal mengangkat cerita itu dan menjelaskan bahwa patung itu hanya bikinan seorang pemahat untuk menakuti anaknya yang nakal. 

Intinya sih, pada tahun 1066 ada pasukan orang Normandia yang dipimpin oleh seorang lord yang bijaksana dan jago sekali perang bernama Wulfgar, merebut desa Darkenwald yang kecil. Di desa itu hidup seorang putri dari lord sebelumnya bernama Aislinn. Tapi karena pada waktu itu Wulfgar sedang diberikan tugas oleh William (yang kemudian dilantik jadi raja Inggris), jadi Wulfgar menyuruh Ragnor untuk menundukkan desa tersebut secara musyawarah. Namun, Ragnor yang kasar tidak mau mendengarkan dan membunuh nyaris sebagian penduduk desa tersebut termasuk ayah Aislinn.

Setelah itu Wulfgar menjadikan Aislinn sebagai 'perempuan simpanan' yang membuat mereka bertengkar setiap hari. Yah, taulah ya lama-kelamaan mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. 

Aku suka penjabaran penulis (atau penerjemah?) tentang Wulfgar. Dia laki-laki sejati yang benar-benar bijaksana dan adil, meskipun ia menjadikan penduduk asli Darkenwald sebagai budaknya. 

Kekurangan novel ini sih ga terlalu banyak. Cuma agak ngeri tentang kekasaran yang dilakukan Ragnor dan percintaan yang tersebar nyaris setiap halaman. Well, namanya juga novel dewasa ya hehe 

Oh ya, aku juga kurang suka nih sama covernya versi Gagas. Ga jelek sih bagus banget malah. Tapi, aku rasa agak ga cocok deh sama ceritanya. Kayaknya bakal lebih pantas kalo bunga-bunga di covernya diganti dengan aksen kayu-kayu atau apa pun yang berhubungan sama perang atau kerajaan. 

Endingnya!

Ehem, ini ending paling sempurna yang pernah aku baca. Gatau emang novel terjemahan kebanyakan begini atau memang kebetulan aja. Beneran deh, sempurna banget lho aku sampe bingung sendiri. Tapi yaaah aku suka hihi 

Sampai aku menulis review ini, aku masih ga bisa lepas dari bayang-bayang Wulfgar. Aku bisa membayangkan sosoknya yang dingin, misterius, tapi 'nakal' sekaligus cerdas dalam hal perang. Badannya yang kekar tinggi dan mata abu-abunya yang selalu memandang Aislinn. 

Ya Tuhan..., benarkah sosok seperti dia nyata? *dramtisation*

So, kalo ada orang yang bertanya aku suka atau tidak pada novel ini, akan kujawab; YA. Tapi aku benar-benar tidak menyarankan kalian yang dibawah umur 18 tahun untuk baca novel ini. Novel dewasa ini sangat 'dewasa'. You know what I mean.

Akhir kata, 

"HIDUP WULFGAR, LORD OF DARKENWALD!" 

(capslock jebol) 

♥Best Regards♥

6 komentar:

  1. Waah..
    Pengen baca dong mbaa ..
    ditoko buku masih ada ga yah ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo :)
      wah aku kurang tau juga deh masih ada apa ga .
      tapi terakhir aku ke toko buku sih udah ga ada ^ ^;
      mungkin ada di toko online :D

      Hapus
  2. Yang pengin baca2 novel gratis, mampir ke sini yuk! ;)

    http://nayacorath.wordpress.com

    BalasHapus
  3. kakak, novel ini gaada sekuelnya ya? aku masih penasaran sama wulfgar kalo udah punya anak hehehhehe

    BalasHapus