Minggu, 02 Juni 2013

Review : Bangkok: The Journal by Moemoe Rizal



3 of 5 stars

Kalo tiap novel ada jenis kelaminnya, berarti novel Bangkok ini sudah pasti laki-laki. Oh bukan, bukan karena penulisnya laki-laki atau sudut pandang orang pertamanya juga laki-laki. Tapi aku rasa itu karena... yah, you know what I mean, right? Youabsolutely know what I mean

lols :P

Sebenarnya aku sudah selesai menjelajah Bangkok: The Journal ini kemaren malem. Udah gatel aja tangan pengen ngidupin laptop terus nulis review deh di goodreads. But well, sudah terlalu malam. Bayang-bayang kesibukan hari Senin yang ribet bikin aku urung menulis review dan menundanya sampai pagi ini. Untungnya sih hari ini masuk jam sebelas jadi yaaaah masih ada waktu santai di rumah :P hihi

Jujur aja aku baru 2x baca novel karya kak Moemoe Rizal. Fly To The Sky sama Bangkok: The Journal ini. Dulu sempat mau beli Jump cuma kepicut duluan sama Terpesona, jadi batal deh.walau sekarang sebel banget ga jadi beli Jump malah beli Terpesona ya isinya mengecewakan. TAPI, meskipun baru baca dua novel kak Moemoe, aku bisa langsung menemukan khas penulisannya. 

Dilihat dari plotnya sih oke-oke aja. Karakter para tokohnya juga kuat, yah walaupun aku ga bisa merasakan chemistry antara Edvan dan Charm. Tapi hubungan afeksi antara Edvan dan Edvin yang paling aku suka di novel ini. Kata-kata family help family itu entah kenapa ya rasanya menyentuh sekali :') konflik keluarga di novel ini berhasil bikin aku nyaris nangis berkali-kali. Berat pasti rasanya jadi Edvan si tukang narsis itu. 

Sebenarnya aku berharap bisa ngasih empat bintang sama novel ini. Tapi ya itu, chemistry antara Edvan dan Charm ga aku rasain. Yang artinya aku ga merasa kalo mereka berdua itu seharusnya jadi sepasang kekasih seperti Leonardo dan Felice di novel Roma kebiasaan kan banding-bandingin buku kamu mah cha. Dan, bintang yang kelima itu emang ga pernah aku sentuh. Pasalnya, aku 'menganut' kepercayaan tidak-ada-novel-yang-sempurna, jadi bintang kelima itu ga pernah aku kasih ke buku mana pun *iya kan ya? sial, gue lupa lagi*

Kayak di novel Restart, di sini juga ada sedikiiiiiit hubungan sama novel Fly To The Sky. Cuma sekilas sih tapi jadi bagian terpenting di novel ini juga. 

Pas di halaman 210 itu sangat mengingatkan aku waktu pertama kalinya aku ngampus *OSPEK*. Rasanya tuh persis kayak yang dijabarin Edvan. Pengen nangis karena homesick tapi ga bisa karena merasa udah jadi orang (beranjak) dewasa. Waktu nyasar di Jakarta kepengennya nelepon Mama ato orang rumah di Bogor. Tapi kan ga mungkin juga gitu ya aku nelepon terus minta jemput yang jarak jauhnya kebangetan gitu. Akhirnya sama kayak Edvan, aku nelepon temen cuma buat bilang "Gue nyasar". 

Di halaman 282 waktu Edvan bilang 'ucing sumput' aku sontak ketawa ngakak. Beneran deh, sunda banget nih orang :P apalagi dia ngomongnya sama gadis Thai yang ga tau apa itu artinya 'ucing sumput'. Ya ampun.......

Aaaaaand, holy shit deh sama apa yang terjadi di halaman 326. Aku cuma bisa bergeming aja gitu bacanya terus WHAT-THE-HELL-WAS-THAT yang keluar dari mulutku pertama kali.Bromance maksudku, brotherhood antara Edvan dan (ups spoiler) bener-bener bikin aku gemas. Lebih cocok ke bromance ga sih? *di keplak kak Moemoe* *sok kenal amat gue* *yaudah sih kebanyakan tanda bintang jadi pusing*

Oh ya, kalo di novel Roma-nya kak Robin banjir quote, di novel ini juga aku nemu banyak quote. Yah, kalo quote-quote di awal bab sih aku sering nemu di brainyquote.com. Tapi aku sukaaaaaaa banget sama quote-quote yang tersirat di dalam cerita. Kayak misalnya,

Mendoakan orang nggak boleh ada 'tapi'-nya


Karena pada dasarnya, aku nggak sendirian. Aku masih punya keluarga


Dan, masih banyak lagi :))

SO, novel ini nggak mengecewakan. Sesuai dengan ekspetasiku walaupun kurang gregetnya dikit. Aku sih berharap kak Moemoe bakal bikin cerita tentang Stevan :P he's adorable btw hihi 

Yah, pengennya sih langsung 'terbang' lagi ke Melbourne, tapi apa daya. Dompetku sedang terjangkit krisis ekonomi. Jadi yah, kudu jemput rezeki dulu deh hehe

สวัสดีค่ะ--sawatdee kha!

♥Best Regards♥ 

Jumat, 31 Mei 2013

Review: Roma: Con Amore by Robin Wijaya



4 of 5 stars

"Tidak, Leo. You just think that you're in love. But in fact, it's not!"
"I don't think, I'm in love. But I know, I'm in love! With you, Felice..."

Jelaslah ya kalo laki-laki itu ga semuanya mementingkan logika. fufufufu. 

Roma: Con Amore karya kak Robin Wijaya adalah novel STPC kedua yang aku baca setelah Paris: Aline. Sebenarnya aku kepengen langsung baca novel ini dulu sebelum Paris. Tapi pas ngeliat harga novelnya yang oh-my-God-so-expensive akhirnya aku harus memasukkan novel ini ke waiting list bersama Bangkok: The Journal. 

But, hei rezeki emang bisa datang kapan aja. Novel ini kebeli juga akhirnya :D

So, about the book.

Covernya oke. Meskipun itu udah ga aneh lagi mengingat cover novel-novel gagasmedia ga pernah ada yang mengecewakanku (sejauh ini). Whoa, gagasmedia emang punya kru yang keren banget :) Warna covernya adem walaupun sebenarnya sih agak sendu-sendu gimana gitu ya. Tapi, sesuai kok sama isi novelnya hihi :P

Novel ini penuh dengan quote-quote sederhana yang menyentuh. Yah, kak Robin emang seorang pemulung quote (ada di profil halaman paling belakang) dan di akun twitter mau pun facebooknya pun selalu banjir sama quote-quote cantik. Jadi, ga heran kok kalo novel ini dipenuhi quote-quote menyentuh :D

Dari halaman pertama sampe Felice pulang ke Indonesia itu sebenarnya agak boring buatku. Rada males aja gitu karena belum masuk ke inti cerita. Terlalu banyak tell sih emang, tapi menurutku itu fine-fine aja. Pasti akan jadi sangat panjang kalo setiap bagian harus di show :) but, I enjoy it. 

Pangeran di dalam novel ini bernama Leonardo Halim. Maestro dari Indonesia yang mengidolakan Michelangelo. Dan, Felice diberi kehormatan menjadi 'permaisuri' di sini. Oh, tentu saja pangeran dan permaisuri ini punya jalan cinta yang unik. Perjalanan yang menurutku, ehm, sedikit menyebalkan.

Kenapa?

(ga bisa dijelasin, soalnya spoiler :p)

Aniwey, plotnya berjalan lancar. Mengalir seperti air. Penokohannya juga bagus, tidak terlalu kuat tapi ga terlalu lemah juga. Chemistry antara Leonardo dan Felice lebih terasa daripada Sena dan Aline di novel Paris. Tapi bukan berarti novel Paris jelek lho. Hanya lebih terasa pada Leonardo dan Felice :D Penjelasan mengenai latar kejadian juga alhamdulilah yah ga ngebingungin huehehe sekalian 'mengajak' aku keliling Roma juga :)

Ngemeng-ngemeng nih kenapa sih dialog antar tokohnya kok baku kak Robin? Kenapa ga dibikin euh lebih biasa kayak orang-orang Indonesia ngobrol? Kalo misalkan panggilannya 'saya-kamu' sih ga masalah. Tapi yah...

Intinya, aku suka novel ini. Terlepas dari dialog yang baku, aku menikmati Roma pada novel ini. Oh ya, aku juga berterima kasih kak Robin sudah menciptakan seorang wanita tangguh seperti Marla :) suatu hari aku harus seperti dia. Yang punya hati lapang, pikiran dewasa, dan tau kapan dia harus mundur dari kehidupan orang lain :') 

Merelakan orang yang dicintai untuk orang lain itu sakit lho. Tapi yah, inget-inget aja deh kalo orang yang tertulis di hatimu belum tentu tertulis di buku nikahmu (ayey!) 

Tambahan aja nih. Aku lebih suka sama proyek STPC gagas daripada Gagas duet sebelum ini. Ga berarti gagas duet jelek juga, cuma kan kalo dua penulis yang punya gaya penulisan berbeda di dalam satu buku itu rasanya..., ga sreg aja gitu. Apalagi STPC ini di setiap novel ada post card nya :D tambah keren aja nih gagas haha 

Yah, jadi begitulah review dariku mengenai Roma: Con Amore. Novel ini lebih bagus daripada novel kak Robin yang Before Us. Lebih bagus. Artinya, Before Us udah bagus kan? 

Betewe, ada dua quote yang aku suka dari novel ini. 

Pertama,

Ada sesuatu yang mengganggu hatiku ketika kita bertemu. Aku melihat bayangan dia, tersimpan di balik tatapanmu


So deep. I know. 

Kedua, 

Rindu yang Tuhan ciptakan, adalah jarak terdekat di antara perpisahan


Ooooooh. So sweet :*

So, waktunya terbang ke Bangkok :D catch ya later!


♥Best Regards♥

P.S!
Waktu menulis ini, aku belum tau apa itu artinya Con Amore. Jadi, aku buka deh google translate dan mengetik Con Amore di sana. Ternyata artinya itu....

Cari sendiri ya! 

Senin, 27 Mei 2013

Review : Paris: Aline by Prisca Primasari



3 dari 5 bintang

This is a good book. But, not the best one. 

Hai, kak Prisca Primasari :) ini buku ketiga kak Prisca yang aku baca setelah Beautiful Mistake dan Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa. Tiga-tiganya punya karakteristik yang sama (yaiyalah, orang penulisnya sama!), menyentuh hati. But, somehow aku merasa ada yang kurang dari novel-novel kak Prisca. Sesuatu yang biasanya bikin aku geregetan sampe rasanya pengen benyek-benyekin buku. 

lols :D

Mari mereview dari sesuatu yang aku suka dari novel Paris: Aline ini :))

1) I Heart Ezra so much <3
Ga ngerti ya kenapa. Tapi sosok Ezra dari pertama kali muncul di halaman 16 dengan kalimat pembuka "Aline," , aku udah punya firasat kalo cowok ini bakal kebayang-bayang terus di kepalaku. Dan, emang bener. Sampai aku menulis review ini, Ezra masih berputar-putar di otakku sambil menyunggingkan senyum tulusnya hihi

2) The Emotion
Kak Prisca jago banget lho bikin pembacanya terharu sama tulisan-tulisannya. Apalagi pas bab EZRA (lagi-lagi dia) yang sedihnya ya Allaaaaaah~ bikin aku heran kenapa Aline mau melepaskan laki-laki itu begitu saja. 

3) The 'Fan-dabby-dozy' ending <3
SUKA BANGET! Endingnya ituh tuuuuh sesuatuuuh!

Buku ini jelas ga sempurna (tentu saja, ga ada novel yang sempurna). Dan, ada beberapa hal yang ga aku ngerti sama novel ini. 

Pertama, Aeolus Sena ga terdengar seperti orang Indonesia menurutku. Oh, oke. Kebebasan penulis emang buat bikin nama tokohnya sesuka hati. Mungkin aja Aeolus Sena memiliki arti yang bagus tapi akunya aja ga ngerti. Tapi tetep aja kan... huehehe

Kedua, aku merasa plotnya agak terburu-buru :( jadi aku sedikit euh, ga bisa mengkhayati gitu (cielah). Maksudku, Sena tiba-tiba hilang dan Ezra yang harus pergi ke Peru? Hem.

Ketiga, aku ga dapet chemisty antara Aline dan Sena sama sekali. Aku juga ngerasa karakter Sena kurang kuat aja di sini. Kalo Aline jelaslah ya soalnya dia jadi tokoh 'aku' di novel Paris. Tapi serius deh, aku gatau gimana ceritanya Aline jadi naksir Sena lho. Sori kak Prisca :(

Keempat, konfliknya menurut aku sih kurang jelas. Maksudnya, kurang penjelasan aja tentang keluarga Poussin dan urusannya dengan Sena. Apalagi pas bagian Aline yang dengan rela ngasih buku seharga empat juta dolar ke Madame Poussin, udah gitu tiba-tiba dipekerjakan di sana. Terusnya bisa bebas setelah Sena minta izin mau ngebeliin Aline makan.

Aku juga ngerasa kehadiran Putra di novel ini sebenernya ganggu. 

Yaaaaah. Biasanya emang gitu kelemahan POV orang pertama pelaku utama. Kisah tentang Sena yang akhirnya berhasil bebas dari keluarga Poussin pun cuma selewat gitu aja.

Pokoknya, novel ini kurang 'bumbu' buat aku. Entah itu garam atau gula atau vetsin atau...



OKE!

Over all novel ini bagus (apalagi covernya cakep punya plus post card pula). Dan, aku sama sekali ga nyesal udah beli dan baca novel ini. Kak Prisca mengajarkan tentang cinta yang butuh pengorbanan lewat novel Paris. Terdengar cheesy emang, tapi itu yang aku tangkap dari Paris. 

Kalo orang bilang cinta itu adalah kebahagiaan, berarti nemu uang 100ribu di jalan itu cinta haha tapi menurutku sih cinta itu lebih mengarah ke suatu rasa yang membuatmu sakit tapi kamu dengan bodohnya malah mempertahankannya. 

Ribet emang kalo udah ngomongin cinta =____=

Oh ya! Cuma mau ngasih info dikit aja nih kak Prisca. Di halaman 96 yang Sena manggil 'Mon Ami' ke Aline. 'Mon Ami' emang punya arti 'teman saya'. Tapi 'ami' di sini artinya laki-laki. Jadi, 'mon ami' itu artinya teman saya yang berjenis kelamin laki-laki. Sementara Aline itu perempuan kan ya huehehe harusnya sih seingatku pakenya 'Mon Amie'. Anggaplah ya 'e' nya ga ke ketik ato kehapus gimana gitu ya haha :P

Okeeeh segitu aja kali ya reviewnya (segitu? banyak kaleee). lols. so sorry kalo banyak ngomong dan kayaknya aku sok tau banget gitu ya ngomentarin novel kak Prisca yang udah nerbitin tiga buku ckck 

Mohon maaf kakak kalo ada kata-kata yang nyakitin hati ato gimana :( ga maksud ngejelekik kok! cuma jujur ga ada salahnya kan? huehehe

Aku tetep nunggu novel karya kak Prisca selanjutnya kok :) 

Well, akhir kalimat (karena kata terlalu mainstream haha),

"Il n'y a qu'un bonheur dans la vie, c'est d'aimer et d'être aimé." -- There is only one happiness in life, to love and be loved (George Sand).

♥Best Regards♥


P.S!
Sampe detik ini aku gatau gimana cara menyebut nama Sévigne :| 
dan apa yang dilakukan Olivher di halaman 161 itu...... *pingsan*

Jumat, 24 Mei 2013

Review : Restart by Nina Ardianti



4 dari 5 bintang

HATI-HATI DEH SPOILER!!

Jatuh cinta - Jadian - Patah hati - Move on - Restart

mungkin itu kali ya siklus percintaan manusia hari gini. mudah jatuh cinta, mudah patah hati, tapi susahnya amit-amit buat move on dan memulai segalanya dari titik nol lagi. 

apalagi kalo kamu ternyata udah menjalin hubungan selama tiga setengah tahun sama cowok yang kamu pikir sempurna. kepikiran ga sih kalo dia suatu saat kamu temukan lagi di kamar sama mantan pacarnya yang ga lebih cantik daripada Dian Sastro atau minimal Eriska Rein?

so, itulah yang terjadi pada Syiana Alamsjah. sahabat sehidup-sematinya Edyta yang jadi tokoh utama di novel Fly To The Sky bareng Ardian. dia (Syiana) memergoki Yudha tidur bareng seorang cewek yg ternyata adalah mantannya di hotel Kempinski. 

sampai titik itu aku udah mulai gemas sama novel ini. Yudha stupid, Yudha idiot, Yudha moron, yada-yada-yada. tapi begitu sosok seorang Fedrian muncul, hem, aku tau ke mana cerita ini akan mengarah. 

curhat dikit deh ya, kalo dari dulu itu aku emang paling ga suka sama anak-anak band. mau itu band-band aliran melayu macam Wa*i, band-band yang dulu-tenar-bgt-tapi-sekarang-ga kaya U*gu, atau band-band keren banget sekelas Maroon 5, Simple Plan, One Republic, dan yang lainnya. suka sih sama lagu-lagu mereka, tapi orangnya? hem. no way.

dan rasanya tuh kaya di tampar bolak-balik pas Fedrian ngomong tentang stereotype di halaman 245-246. itu tuh ya berasa Fedrian lagi ngomong sama gue dan bukannya sama Syiana *sorry, dear :p*

emang sih kita ga semestinya menilai orang dari yang kita liat doang. tapi jaman gini gitu ya, mana ada cowo yang mau ngedeketin cewek pendek atau item atau gemuk padahal isi otak mereka kalo udah ngomong bikin tepar Eisntein. pastinya hal pertama yang dipertimbangkan itu fisik *udah ngaku aja ga usah ngelak* setelah itu baru deh sebutin atu-atu kelebihannya selain fisik. 

kok jadi OOT? 

--skip--

Jadi, novel ini bacaan ga terlalu berat tapi ga terlalu ringan juga. Alurnya, normal kaya kebanyakan novel lainnya. Penjabaran karakternya juga bagus banget. Tapi yang aku suka dari novel ini tuh dialog antartokohnya. Asik deh baca dialog per dialognya :) berasa aku juga ikutan di ajak ngobrol sama tokoh-tokohnya hehe

mungkin yang ga aku suka dari novel ini sih cuma klimaksnya aja yang menurutku ga kerasa kali ya. atau akunya aja yang ga sadar? Yah, whatev pokonya gitu.

aku juga ga suka sama pas bagian Syiana mutusin Fedrian setelah di labrak sama Delisa. menurutku itu sangat tidak 'Syiana'. dia kan kalo ngomong sarkastis dan ga mau kalah gitu. masa karena Delisa lebih cantik dari dia terus dia akhirnya mutusin Fedrian gitu? Oh, okelah Syiana mungkin juga takut di selingkuhin lagi sama Fedrian mengingat cowok itu artis dan dikelilingi banyak cewek cantik. 

but pleaseeeee masa tiba-tiba mutusin Fedrian gitu aja siiih :( ? setelah apa yang dilakukan cowok itu buat Syiana? ga fair tauuuuuuk!

tapi gatau kenapa ya Aulia itu kok mirip-mirip sama Ihsan. Iya ga sih? dan untuk ukuran cowok banker, Aulia itu bawel bener ya -______- haha oh ya, aku juga nemu tiga nama unik di novel ini: Ardian, Adrian, Aldian. Ga penting sih emang tapi lucu aja namanya mirip-mirip hihi 

okeeeh, intinya sih novel ini KE-REN! Aku suka dan berniat bakal baca semua novel-novelnya kak Nina Ardianti. ya abisnya, nagih gitu sih gaya penulsiannya :P

yang pasti sih setelah baca novel ini tuh rasanya pengen mutusin pacar. abis gitu nyari cowok-cowok se-gentle Fedrian deh di luar sana hahahaha :D *evil* 

sudahlah. akhiri review sampai sini aja sebelum OOT ini berkepanjangan. 

♥Best Regards♥

Senin, 13 Mei 2013

Review : The Wolf and The Dove (Terjemahan Gagasmedia) by Kathleen E. Woodiwiss



Tiga dari lima bintang ~

The Wolf and The Dove, Gairah Sang Serigala (Gagasmedia)

Ga mesti review pake bahasa inggris kan ya? huehehe ketauan banget ga jago bahasa inggrisnya :P 

Seperti biasa, sebelum ke inti review, aku mau curhat sedikit mengenai novel dewasa terjemahan ini. 

Ga tau kenapa dari dulu aku ga hobi baca novel terjemahan. Mungkin pernah beberapa kali baca, tapi itu pun bukan novel-novel tebal seperti novel ini. Setiap kali ke toko buku pun aku ga pernah berniat menengok ke rak novel terjemahan yang biasanya covernya ga terlalu menarik. 

Dan, novel The Wold and The Dove ini bukan aku beli dengan uangku sendiri, tetapi hadiah dari Gagasmedia sepaket sama buku Kelakar Tanpa Batas. 

Waktu paket itu sampai ke rumah aku langsung kaget. Ga nyangka kalau Gagas bakal ngasih novel terjemahan yang tebal begini. Awalnya sih rada-rada ga niat gitu mau baca. Tapi sehari setelah novel ini sampai ke rumah, aku mesti pergi ke Tangerang menjenguk sepupu yang baru lahiran, dan karena aku tau pasti bakal bosan selama di sana, jadi kubawa saja novel ini sebagai teman bacaan. 

Setelah dibaca-baca, eh ternyata seru juga lho :)

Sebagai prolog, novel ini menceritakan sebuah mitos patung besi berbentuk serigala di dekat perbatasan Skotlandia yang konon katanya merupakan seorang Ksatria Muda yang tak terkalahkan bernama The Wolf. Dan, Woden (raja para dewa) menghukum The Wolf karena ia berani membunuh manusia dan menentang takdir. 

Aku kira novel ini bakal bergenre fantasi karena prolog tersebut tapi mengingat Gagas sudah tidak pernah menerbitkan novel bergenre seperti itu lagi, aku berpikir ulang. 

Jadi, sebenarnya novel ini seperti membetulkan mitos pada prolog tersebut. Seperti patung Malin Kundang; legendanya bilang kalo patung itu merupakan patung seorang pemuda bernama Malin Kundang yang dikutuk karena durhaka pada Ibunya. Nah, siapa yang tau kan kalo cerita itu benar atau salah? Mungkin suatu hari nanti ada penulis yang bakal mengangkat cerita itu dan menjelaskan bahwa patung itu hanya bikinan seorang pemahat untuk menakuti anaknya yang nakal. 

Intinya sih, pada tahun 1066 ada pasukan orang Normandia yang dipimpin oleh seorang lord yang bijaksana dan jago sekali perang bernama Wulfgar, merebut desa Darkenwald yang kecil. Di desa itu hidup seorang putri dari lord sebelumnya bernama Aislinn. Tapi karena pada waktu itu Wulfgar sedang diberikan tugas oleh William (yang kemudian dilantik jadi raja Inggris), jadi Wulfgar menyuruh Ragnor untuk menundukkan desa tersebut secara musyawarah. Namun, Ragnor yang kasar tidak mau mendengarkan dan membunuh nyaris sebagian penduduk desa tersebut termasuk ayah Aislinn.

Setelah itu Wulfgar menjadikan Aislinn sebagai 'perempuan simpanan' yang membuat mereka bertengkar setiap hari. Yah, taulah ya lama-kelamaan mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. 

Aku suka penjabaran penulis (atau penerjemah?) tentang Wulfgar. Dia laki-laki sejati yang benar-benar bijaksana dan adil, meskipun ia menjadikan penduduk asli Darkenwald sebagai budaknya. 

Kekurangan novel ini sih ga terlalu banyak. Cuma agak ngeri tentang kekasaran yang dilakukan Ragnor dan percintaan yang tersebar nyaris setiap halaman. Well, namanya juga novel dewasa ya hehe 

Oh ya, aku juga kurang suka nih sama covernya versi Gagas. Ga jelek sih bagus banget malah. Tapi, aku rasa agak ga cocok deh sama ceritanya. Kayaknya bakal lebih pantas kalo bunga-bunga di covernya diganti dengan aksen kayu-kayu atau apa pun yang berhubungan sama perang atau kerajaan. 

Endingnya!

Ehem, ini ending paling sempurna yang pernah aku baca. Gatau emang novel terjemahan kebanyakan begini atau memang kebetulan aja. Beneran deh, sempurna banget lho aku sampe bingung sendiri. Tapi yaaah aku suka hihi 

Sampai aku menulis review ini, aku masih ga bisa lepas dari bayang-bayang Wulfgar. Aku bisa membayangkan sosoknya yang dingin, misterius, tapi 'nakal' sekaligus cerdas dalam hal perang. Badannya yang kekar tinggi dan mata abu-abunya yang selalu memandang Aislinn. 

Ya Tuhan..., benarkah sosok seperti dia nyata? *dramtisation*

So, kalo ada orang yang bertanya aku suka atau tidak pada novel ini, akan kujawab; YA. Tapi aku benar-benar tidak menyarankan kalian yang dibawah umur 18 tahun untuk baca novel ini. Novel dewasa ini sangat 'dewasa'. You know what I mean.

Akhir kata, 

"HIDUP WULFGAR, LORD OF DARKENWALD!" 

(capslock jebol) 

♥Best Regards♥

Review : Dream Cathcer by Alanda Kariza



Tiga setengah dari lima bintang ~

About this book ...

waktu itu lagi ga sengaja online twitter di laptop terus lihat akun Gagasmedia ngetweet pake hastag #DreamCatcher. awalnya sih ga tertarik tapi begitu ngeh quote-quotenya cakep banget akhirnya kepikiran untuk beli. 

besoknya, aku langsung cabut ke toko buku bareng si ade nyari buku Dream Catcher kali aja masih ada. Yang biasanya aku mojok di rak-rak novel di bagian paling belakang toko buku, waktu itu aku malah muter-muter di rak psikologi nyari buku Dream Catcher. 

setelah tawaf tiga kali akhirnya nemu di rak paling bawah udah gitu kejepit sama buku-buku besar lainnya. sisa tiga buku dan semuanya telanjang alias udah ga ada plastiknya. kecewa banget pas tau bukunya cuma tinggal tiga itu. ga mungkin ga jadi beli soalnya niat dateng ke toko buku hari itu ya cuma mau nyari buku Dream Catcher! Masa pas udah megang malah ga jadi beli gara-gara ga ada sampul plastiknya? 

abis berpikir lama, akhirnya di beli juga. dari tiga buku itu yang mendingan cuma satu. sementara dua lagi udah ga ada potongan kecil di cover yang bertuliskan 'My Dreams Are' yang bisa juga di pake jadi pembatas buku. begitu sampe rumah, aku langsung melahap buku Dream Catcher ini.

So, 

Buku ini ga terlalu tebal udah gitu kata-katanya simple dan ga berat. enak banget buat dibaca para remaja yang lagi galau nentuin cita-citanya apa. abis baca buku ini, dijamin deh semangat kalian yang awalnya redup nyaris padam langsung mencuat lagi ke atas bahkan naik sampai ubun-ubun. 

dari dulu aku memang ga pernah nganggap yang namanya 'cita-cita' itu remeh. cita-cita itu tujuan. cita-cita adalah salah satu alasan kenapa kita hidup, untuk apa kita dilahirkan, dan apa yang kita lakukan sepanjang hidup kita. bahkan banyak dari anak-anak zaman sekarang yang menjadikan cita-cita sebagai landasan untuk membuat orang tuanya bangga dibalik nilai-nilai akademis sekolah yang 'ehem' merah-merah. 

Mbak Alanda Kariza hanyalah nama seorang penulis yang ga aku kenal awalnya. tapi setelah baca buku ini, aku terkagum-kagum sendiri sama pengalaman hidup Mbak Alanda yang seperti roller coaster. berbahaya tapi menyenangkan. 

aku ga akan berkomentar banyak tentang buku ini -atau sudah?- tapi yang jelas, setelah selesai membaca buku Dream Catcher, semangatku untuk mengapai cita-citaku dari zaman SD kembali menggebu-gebu. ga ada alasan untuk berhenti di tengah jalan. apa pun itu. aku sempat merinding di beberapa halaman membaca pengalaman-pengalaman orang lain yang berusaha untuk mencapai cita-citanya. salah satunya di halaman 44. 

Soichiro Honda tidak diterima oleh Toyota Motor Corporation. Resep ayam goreng milik Harland David Sanders a.k.a Colonel Sanders ditolak sebanyak 1.009 kali. Albert Einstein baru bisa bicara saat berumur 4 tahun dan membaca saat berumur 7 tahun. Oprah Winfrey pernah dipecat karena disebut tidak pas untuk televisi. Steven Spielberg pernah di tolak tiga kali oleh University of Southern California School of Theater, Film and Television. 

Lihat, kan, betapa kegagalan itu berarti banyak ketika kesuksesan telah diraih. 

akhir kata, aku menyukai buku ini dan ga menyesal membeli meskipun sedikit terlambat. ini satu quote yang sangat ngena di hati bahkan sekarang aku tulis dan dipajang di meja belajarku:

"Ternyata, hal yang membatasi diri kita dalam bermimpi dan merealisasikannya hanyalah diri kita sendiri."

♥ Best Regards ♥ 

P.S 
besoknya adeku pergi lagi ke toko buku bareng teman-temannya dan dia bilang buku Dream Catcher baru dipajang lagi di rak best seller. masih banyak. terbungkus plastik dengan rapi. 

Dan aku cuma bisa menghela napas panjang.........

Review : Andai Kau Tahu by Dahlian



Empat dari lima bintang ~

** spoiler alert ** So, 

Aku menyelesaikan novel sebanyak 366 halaman ini selama tiga hari. Bisa aja sih cuma sehari tapi sayang banget kalau novel seindah ini diselesaikan cepat-cepat hihi :P

Bintang pertama aku berikan untuk tokoh cowoknya yang bernama Reza. Penjabaran mbak Dahlian tentang cowok ini keren banget lho. Bikin aku yang bacanya senyum-senyum sendiri membayangkan betapa romantisnya dokter satu ini *mupeng*. 

Yah, meskipun kalau boleh jujur nih cowok kayak Reza gini tuh langka nyaris nggak nyata. Too perfect! but that's okay. Judulnya juga novel *ya nggak?* hihi

Bintang kedua buat alur ceritanya yang menarik. Emosiku sampe kebawa-bawa lho baca novel ini :) Susah banget lepas sama novel ini buat berhenti sebentar aja. Padahal mata udah protes pengen tidur ckck 

Tapi menurut aku pribadi sih, ceritanya gampang ketebak. Apalagi pas tau si Hendrik musisi yang belum mampan udah gitu males-malesan waktu nerima Tania di rumahnya. Otakku udah kebayang Hendrik selingkuh dan Reza someday bakal nyelamatin Tania. Hem.

Bintang ketiga buat idenya yang berhubungan sama dokter. Don't know why tapi aku suka banget lho sama cerita-cerita tentang dokter dan pilot :) Mungkin karena aku sendiri suka sama cowok-cowok kalem yang diem gitu ya #kode #eh hahaha 

Aku sebenernya agak ga percaya kalau cowok macam Reza mau sama Tania yang nggak berpendidikan. Maaaaap, tapi zaman gini kan mana ada cowok keren-kaya-pinter-punya segalanya mau sama cewek yang nggak punya apa-apa selain uang dan cantik secara fisik *apa kebalik ya?* haha ya sutralah ~ 

dan, bintang yang terakhir buat endingnya yang sweet banget :) bikin aku menghembuskan napas puas udah beli dan baca novel ini. 

kenapa aku ga ngasih lima bintang? 

karena aku nggak suka sama covernya :( sweet sih buat novel romantis kayak gini tapi kurang menarik. Oh ya, menurutku judulnya juga kurang pas deh. Kurang mewakili seluruh isi novelnya aja gitu :3 'Andai Kau Tahu' tuh kesannya kayak cinta terpendam yang nggak bisa diungkapkan. Eh tapi itu menurutku lho hehe pandangan tiap orang itu kan beda ya :) 

Oke, 
segitu aja review dariku tentang novel ini. Singkat kata sih novel ini seru, bikin penasaran, dan bawaannya jadi pengen diromantisin orang hahaha nggak rugi deh beli novel ini. Isinya sesuai dengan harganya yang *bagiku* agak mahal :P 


♥Best Regards♥

Review : The Truth About Forever by Orizuka



Empat dari lima bintang ~


"Yogas, The Neighbor from Mars."


Masih jelas banget di ingatanku waktu pertama kali liat novel ini lima tahun yang lalu. Covernya masih berwarna hijau dan jujur dari hati yang paliiiiing dalam; covernya sama sekali ga menarik. Dulu lho ya, dulu :P 

Saat itu aku masih berstatus sebagai siswi SMP. Lagi seneng-senengnya baca novel remaja yang punya ending bahagia. Plotnya ringan dengan tokoh cowok ganteng dan si cewek yang biasa-biasa aja. Ga pernah tuh ada sebersit keinginan buat beli novel yang endingnya udah ketahuan bakal bikin nangis -waktu itu ada novel TTAF yang udah kebuka dan aku sempat baca endingnya. 

Inget banget lho waktu itu pas malam pergantian tahun aku bareng keluarga besar lagi ngumpul-ngumpul di Sukabumi. Karena di rumah ga ada apa-apa, akhirnya kita pergilah ke mal kecil di Cianjur menghindari kemacetan di kota Sukabumi. Di sana juga ada toko buku kecil yang isinya pun cuma buku-buku lama. 

Aku nemu novel ini di rak new arrival di paling depan toko buku. Pas liat penulisnya Orizuka, aku langsung tertarik tuh mengingat novel-novel kak Orizuka yang keren-keren. Udah niat mau beli eh kebetulan ada yang udah kebuka. Aku baca dan seketika bete. Endingnya ada salah satu tokoh yang meninggal. 

Ga jadi deh beli novel TTAF dan karena aku paling kesal kalo abis dari toko buku ga beli buku apa pun, aku akhirnya memilih novel Orange-nya kak Windry Ramadhina. 

Bertahun-tahun setelahnya, TTAF di terbitin ulang. Dengan segenap perasaan penasaran campur takut -takut nangis- akhirnya aku memesan novel ini di kak Orizuka. Dapet potongan harga udah gitu plus ttd pula :P hihi

Jadi, 

Novel ini bercerita tentang Yogas yang tengah mencari si biang keladi kehancuran hidupnya di Yogya. Selama di sana, dia tinggal di kost-an bobrok mirip rumah hantu yang ternyata ditempati oleh Kana. 

Karena yang namanya kebersamaan itu menimbulkan rasa, akhirnya mereka berdua mulai merasakan 'rasa' tersebut. Sementara Kana dengan senang hati menyatakan perasaannya, namun Yogas melakukan hal yang sebaliknya. Ia berusaha menjauhi Kana, berusaha membuat Kana membencinya lantas melupakan rasa itu dengan alasan sepele:

"Karena kita nggak punya masa depan." 

Hai, namaku you-dont-wanna-know, dan aku makhluk hidup yang satu species denganmu, Yogas; MANUSIA. Semua manusia pasti mati dan tidak ada yang tahu kapan itu akan terjadi. Termasuk, kamu dan Kana. 

Ini adalah novel lain yang mengajariku untuk ga menyerah menggapai cita-cita selain Montase dan beberapa buku lain. 

Aku suka dengan makna yang berusaha disampaikan kak Orizuka di dalam novel ini. Plotnya benar-benar ga ketebak. Kalian yang sudah menebak-nebak ceritanya seperti apa padahal belum baca, dijamin seratus persen salah -karena aku pun begitu. Benar-benar cerita yang ga tertuga, full of surprises, lucu, dan bermakna. 

Ketika aku baca buku ini, dan tahu sifat-sifat Yogas dan Kana yang terbesit di otakku adalah tokoh-tokoh lain di novel kak Orizuka. Yogas kurang lebih mirip Ares/Orlando/Rayan dan Kana seperti Julia/Jingga. Mungkin ini ciri khas kak Orizuka.

Aku sendiri nyesel kenapa ga beli saja buku ini dulu. Tapi yah, namanya juga anak-anak, labilnya masih kebangetan hihi. 

Omong-omong, entah kenapa aku selalu menganggap laki-laki yang menangis di depan teman laki-lakinya itu keyut. Sementara laki-laki yang nangis di depan perempuan itu manis. Aku rasa itu adalah titik di mana mereka tidak berdaya dan membutuhkan orang lain untuk menopangnya. Beda kan sama perempuan yang kebanyakan nangis karena emosi yang tinggi dan tidak tahu cara melampiaskannya selain menangis. 

lah, jadi out of topic begini -______-
Sudah ya :D

♥ Best Regards ♥