Minggu, 04 Maret 2012

Dear Jung Tae Woo

Ini hanya karangan ^ ^;
jadi , santai saja ...

----


Dear Jung Tae-Woo,
Namaku Nisa. Tapi teman-temanku biasa memanggil Icha. Tidak ada arti spesial dalam namaku. Hanya sebuah nama biasa untuk seorang gadis biasa juga. Mungkin orang tuaku punya alasan tersendiri kenapa memberiku nama seperti itu. Entah Nisa dalam namaku berarti wanita—annisa, Ayu berarti manis dalam bahasa jawa, dan Andani dari singkatan nama kedua orang tuaku. Entahlah. Aku tidak akan pusing-pusing memikirkan arti dari namaku.
Aku hanya seorang gadis biasa yang sulit sekali bersosialisasi dengan lingkungan sekitarku. Aku tak banyak bicara. Aku lebih senang mendengar suara teman-temanku yang tertawa, menangis, khawatir atau reaksi apapun saat mereka bercerita. Mereka seperti memiliki kehidupan yang berwarna. Aku bukan tak bisa seperti mereka, tapi entah kenapa rasanya sulit untuk beradaptasi dan berbaur bersama orang-orang lain. Aku selalu berpikir… kalau mereka menganggapku hanya gadis biasa yang tidak bisa apa-apa.
Lihat mereka. Paras yang cantik. Tinggi badan yang sempurna. Keuangan keluarga yang selalu bisa diandalkan. Mereka pasti merasa seperti penguasa sekolah dengan fisik nyaris sempurna. Tapi coba kalian lihat aku. Tinggi badanku hanya 148 cm. Cukup dikategorikan kecil kalau mengingat statusku sebagai siswi SMA. Parasku pun tak putih mulus seperti mereka. Walau tidak berjerawat, tapi bintik-bintik bekas jerawat semasa SMP masih terlihat jelas. Wajahku berminyak, tak kuat berlama-lama berada di bawah matahari.
Minder. Ya, alasan yang masuk akal mengapa aku sulit sekali bersosialisasi. Mungkin karena terbiasa dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, aku memilih untuk tidak banyak bicara dan menatap kegiatan mereka diam-diam dari balik tembok. Aku tahu mereka tidak berbicara apa-apa secara langsung padaku, tapi hati kecilku mengatakan kalau mereka sebisa mungkin menjauhiku karena aku tidak punya apa-apa.
Cantik? Relatif.
Populer? Mustahil.
Aku bahkan tak punya sesuatu yang bisa dibanggakan oleh orang-orang disekitarku. Jika kalian datang ke sekolahku, lalu menanyakan namaku, ku jamin tak seorang pun yang kau tanya hafal raut wajahku seperti apa. Aku bukan siapa-siapa. Aku benar-benar hanya seorang gadis kecil yang berasal dari keluarga sederhana, yang datang ke sekolah untuk mencari ilmu sebagai bekal masa depanku.
Aku selalu berpikir aku bukan gadis yang spesial. Sampai suatu ketika, aku terdiam duduk di lantai dingin kamar, menyaksikan sebuah acara berita siang. Tadinya aku tak tertarik. Mereka hanya membicarakan masalah politik yang kian hari kian tak apik. Tapi saat berita terakhir, aku bahkan tak bisa mengalihkan padanganku dari layar teve.
Sang pembawa acara berbicara panjang-lebar mengenai seorang bayi lahir dipenuhi bulu rambut. Seorang dokter mengatakan bayi itu terkena kerusakan kromosom sehingga rambut tumbuh tak terkontrol. Aku tak bisa lihat jelas raut wajah sang bayi, karena acara sengaja memburamkan seluruh bagian tubuh bayi yang dipenuhi rambut. Aku sedikit tertegun. Bayi ini hidup. Itu berarti ia akan tumbuh dewasa layaknya bayi normal lainnya. Lalu…
Bagaimana ia bersosialisasi dengan lingkungannya? Apa teman-temannya nanti bisa menerima segala kekurangan yang ada pada dirinya?
Belum saja terjawab pertanyaanku, pembawa acara kembali menunjukkan berita lainnya. Ada dua anak cacat yang tak bisa bermain bahkan bersekolah seperti anak berumur delapan tahun umumnya. Mereka malu. Mereka tak tahan dengan olokan-olokan teman-temannya yang merendahkan kekurangan fisik pada dirinya. Disana dijelaskan, mereka menghabiskan waktu hanya mengurung diri di rumah, bermain bersama orang tuanya, belajar membaca dan berhitung di rumah. Sungguh aku tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan mereka ketika dewasa nanti.
Aku seperti tersentil melihat acara itu. Kalau saja mereka yang tak sempurna tak bisa bersosialisasi, apa aku yang dianugerahi fisik sempurna dan keluarga yang berkecukupan, selalu mengeluh dan merasa sulit bersosialisasi? Aku punya teman. Meskipun hanya segelintir tapi aku tetap punya teman untuk berbagi. Orang tuaku tak pernah pelit memberiku uang, walau aku tahu rasanya pasti melelahkan mencari uang untuk menghidupi keluarga. Lantas…
Apa aku harus selalu mengeluh akan tinggi badanku yang tak sempurna dan uang sakuku yang tak sebanyak mereka?
TIDAK. Aku harus berubah. Aku harus mulai membenahi diriku sendiri untuk menyambut masa depanku yang cerah. Aku yakin, suatu saat nanti aku pasti bisa membahagiakan kedua orang tuaku.
Jadi, Jung Tae-Woo…
Aku tahu kau seorang penyanyi besar. Dan pasti penghasilanmu juga sama besarnya seperti ketenaranmu. Maksudku, apa kau bisa menyisihkan sebagian hasil kerjamu untuk mereka yang tidak mampu? Aku meminta tolong. Mungkin lebih tepatnya memohon. Aku tahu rasanya dilecehkan teman-teman. Aku tahu bagaimana sulitnya mencari teman yang mau menerima kekuranganku apa adanya. Rasanya sakit. Bahkan lebih sakit ketika kau dikhianati Han Soon-Hee sekalipun.
Meski mereka terlahir cacat, mereka tetap manusia biasa yang menginginkan kehidupan normal. Tuhan bukan tanpa alasan melahirkan mereka dalam kondisi yang seperti itu. Aku yakin, kehidupan mereka pasti akan jauh lebih baik kalau kau, Jung Tae-Woo, mau menyisihkan sedikit saja uang penghasilanmu untuk anak-anak yang tidak seberuntung kau.
Percayalah, dibalik semua kesempurnaan hidupmu, selalu ada orang yang menanti uluran tanganmu di belakang.

With hope and wish
Icha