Minggu, 29 Januari 2012

AMI*

Lelia dan Erika yang berdiri tepat di belakang seorang gadis blasteran Indonesia-Perancis, bangga menyatakan bahwa mereka adalah sahabat. Sylvie, si gadis blasteran Indonesia-Perancis itu, menatap seorang cowok tampan yang hampir membuatnya tidak bisa tidur setiap malam bersandar di pagar atap gedung sekolah SMA Global Center.
Dari tempat Sylvie berdiri sekarang, cahaya orange yang berpendar tepat di belakang cowok tampan itu menambah suasana romantis. Semilir angin berhembus membelai helai demi helai rambut pirang Sylvie yang terurai lepas. Bulu kuduk Sylvie merinding karena angin ternyata membawa cuaca dingin.
Disamping Danu, cowok tampan di hadapan Sylvie, ada dua cowok lain yang sejak tadi hanya bisa membatu setelah mendengar pernyataan cinta dari Sylvie. Bukan, mereka berdua bukan terkejut melihat seorang Danu di tembak oleh gadis cantik. Tapi mereka tidak percaya kalau gadis ini adalah Sylvie. Ya, Sylvie! Bukan Lelia ataupun Erika. Sylvie, gadis yang baru saja pindah dari Perancis sebulan yang lalu.
“Apa harus gue jawab sekarang, Vie?” tanya Danu sambil menyisir rambutnya menggunakan tangan. Lelia dan Erika hampir saja pingsan melihatnya.
Sylvie mengangguk pelan. “Iya, Nu... gue mau jawabannya sekarang juga,”
“Vie...” panggil Danu lembut. Perlahan ia menghampiri Sylvie lalu menyentuh pipi mulus Sylvie yang berangsur-angsur memerah. “Gue...”
* * *
“Hei, mau kemana kalian?!” seru Cerry sambil melototi tiga penghuni kelasnya sudah bersiap-siap pulang—atau pergi—di ambang pintu. “Ini kan bukan jam pulang!”
Salah seorang di antara mereka, menggunakan topi putih dan jam tangan hitam, menoleh ogah-ogahan.
“Nggak usah teriak-teriak kita juga tahu ini bukan jam pulang,” katanya datar.
Raut wajah Cerry mendadak berubah kagum ketika ia menyadari betapa tampannya Raditya dengan topi putih itu. “T-terus... kalian mau kemana bawa-bawa tas begitu?”
Yadha, dengan sweater coklat dan headset ponsel di telinganya, berjalan menghampiri Cerry. Dekat, dekat, dan semakin dekat sampai Cerry menyesali pertanyaannya barusan.
“Kita mau cabut,” sahut Yadha bersedekap.
Cerry mengerjap-ngerjapkan matanya panik. Cowok liar yang manis di depannya ini sungguh membuat jantung Cerry berdetak tak karuan. Kolaborasi antara rasa takut dan kagum akut.
“Udah, nggak ada waktu buat debat!” seru seorang lagi mengambil skateboard di belakang kelas. Rambutnya dipotong dengan model pendek berantakan mencuat ke segala arah. “Kita pergi sekarang. Bye all!”
Yadha mengerang lalu berbalik badan menyusul kedua sahabatnya.
* * *
Bruak!
“Wadaw!” rintih Raditya mengelus-ngelus kepalanya yang menubruk Danu. “Heh, kalau mau berhenti ngomong dulu dong! Emangnya skateboard gue ada rem otomatisnya apa?!”
Yang di omelin nggak nyahut. Danu terlalu penasaran dengan keramaian di koridor depan ruang BP.
“Wah, ada yang habis di gigit hiu ya? Atau keserempet kereta?” tanya Yadha sambil berusaha menyeruak masuk ke kerumunan.
Danu yang mendengar analisis gila Yadha termangu lalu menggelengkan kepala pelan. Ia ikut-ikutan nyelip di antara anak-anak yang lain, yang baru di sadari Danu kebanyakan cowoknya.
“Eh... eh... jangan nginjek kaki gue dong!” seru Raditya heboh. Merasa ada yang menginjak tali sepatunya Raditya kehilangan keseimbangan dan…
“Waa!!”
Gubrak!
“Ups,” komentar Yadha datar seperti biasa. Sementara Danu sudah ketawa ngakak ngeliat posisi jatuhnya Raditya nggak ‘banget’.
Korban jatuh akibat tali sepatu yang tidak di ikat itu merasa seluruh badannya remuk. Beberapa kali terdengar suara ‘wadaw’ atau ‘argh’ ketika Raditya berusaha bangun dari posisi buruknya, tapi gagal. Kakinya terlalu lemah untuk menompang tubuhnya yang berat.
“Lo nggak apa-apa?”
Raditya terpaku. Dari posisinya yang sekarang berlutut itu, ia melihat sepasang kaki putih yang mulus mengenakan sepatu kets pink. Seakan dalam gerakan slow motion, Raditya menengadah melihat sosok pemilik kaki mulus yang ternyata sedang menjulurkan tangan menawarkan bantuan.
“Hei, lo nggak apa-apa?” tanya si cantik itu lagi sambil tersenyum. Danu dan Yadha langsung cepat-cepat menghampiri Raditya lalu menepuk jidatnya.
“WADAW! APA-APAAN SIH KALIAN BERDUA?!”
* * *
Namanya Sylvie. Nama panjangnya Sylviiiiieeee… kalau nama lengkapnya Sylvie Lemercier. Pindahan dari Perancis dan masuk ke kelas 11 IPA 4. Kelas dimana ketiga pangeran sekolah itu berngantuk-ngantuk ria saat jam pelajaran membosankan. Orang yang senang dengan kabar ini, ya tentu saja laki-laki sekelas! Tapi orang yang paling amat-sangat senang mendengar ini, hanya Raditya seorang.
Nggak tahu setan apa yang merasuki tubuh si cowok jutek ini sampai-sampai ia menolak saat Yadha dan Danu mengajaknya cabut seperti biasa. Anak itu malah mengeluarkan buku-buku biologi yang ia pinjamnya dari perpustakaan saat jam istirahat.
“Buku biologi?! Nggak ada kerjaan lain apa selain baca?” seru Yadha. “Kayak minum racun tikus atau obat nyamuk, misalnya,”
Yadha udah kelewat emosi. Tapi Danu bisa memaklumi. Ia tahu kalau teman sepermainannya sejak SD ini sedang mengalami masa-masa kasmaran. Dan, yeah, semua orang kalau sedang jatuh cinta pasti akan melakukan hal-hal yang menyeramkan macam meminjam buku biologi dari perpustakaan. Hal yang tidak pernah Raditya lakukan selama tiga tahun terakhir.
Sudah hampir dua minggu pangeran sekolah itu tidak bisa cabut dari sekolah. Raditya tidak bisa di rayu sama sekali seperti biasa! Dan kabar terakhir yang Danu tahu, Raditya berhasil mengajak Sylvie kencan Minggu siang.
* * *
“Gimana kencannya?” tanya Danu saat Raditya baru saja datang ke atap gedung sekolah. Pakaian yang di kenakan Raditya terlihat lusuh selusuh wajahnya.
Danu berpandangan dengan Yadha lalu kembali menatap Raditya.
“Ada yang aneh sama Sylvie,” kata Raditya bersandar di pagar atap seperti yang lain. “Dan, gue benar-benar nggak suka sama keanehan dia,”
“Wow, easy man, santai aja cewek banyak di luar!” seru Yadha menepuk bahu Raditya. “Emang kenapa Sylvie?”
Raditya menghela nafas berat. Topi putih kesayangannya menutup sedikit wajah Raditya sehingga Danu tidak bisa melihat bagaimana raut wajah temannya saat ini. Seratus tanda tanya bergelantungan di atas kepala Danu.
“Dari awal gue jalan sama dia, dia terus ngomongin satu orang yang dia sayangin. Seseorang yang dia taksir dari awal ketemu, seseorang yang mengganggu tidurnya tiap malam, dan seseorang yang berharga untuk dia,” kata Raditya. Kedua temannya menatap bingung.
“Elo, Nu…” kata Raditya lirik. Ia menoleh pada Danu. “Elo orang yang Sylvie taksir,”
Brak!
Ketiga terperajat dan bersamaan menoleh ke pintu atap yang mendadak terbuka. Disana, Sylvie, Lelia, dan Erika masuk.
“Danu, gue suka sama elo!” seru Sylvie santai.
* * *
“Apa?! Lo nolak gue?!”
Danu memasukkan tangan ke saku celana lalu terkekeh. “Maaf, Sylvie. Tapi gue nggak suka sama lo,”
“Tap-tapi… huaaa…” Sylvie berlari meninggalkan atap gedung sekolah lengkap dengan air matanya yang berlinang. Lelia dan Erika segera berlari menyusul Sylvie setelah melambaikan tangan pada Danu.
Danu menghela nafas panjang. Ia menoleh melihat Raditya dan Yadha yang sudah terdiam saking terkejutnya. Sedetik kemudian, mereka menggeleng-gelengkan kepala.
“Ini aneh,” kata Danu. “Bagaimana bisa Sylvie nembak gue yang jelas-jelas belum kenal pasti sama dia? Huh, kisah ini aneh. Apa Sylvie cuma main-main sama gue?”
“Dit, lo nggak marah sama gue kan?” tanya Danu panik. Ia melihat temannya yang satu ini perlahan-lahan menghampirinya dengan tangan yang di kepal erat-erat. No, Danu merasa nyawanya terancam!
Tiba-tiba...
“Waaaa!!!” seru Danu kaget. Yadha terbahak-bahak sementara Raditya sudah terbahak lebih dulu. Wajah Danu sekarang sudah berubah jadi putih karena semen yang tadi di kepal oleh Raditya.
“Haha… Sylvie emang cuma main-main sama lo! Tepatnya manfaatin. Dia pengen jadi ketua cheers lewat elo si kapten basket! Hahahahaha…” jelas Raditya.
Danu terperajat. “WHAT?!”
“Hahahahahaha… mon ami*!” teriak Raditya heboh.
SELESAI

Ami                  : Sahabat.
Mon ami          : Sahabat ku.