Minggu, 02 Juni 2013

Review : Bangkok: The Journal by Moemoe Rizal



3 of 5 stars

Kalo tiap novel ada jenis kelaminnya, berarti novel Bangkok ini sudah pasti laki-laki. Oh bukan, bukan karena penulisnya laki-laki atau sudut pandang orang pertamanya juga laki-laki. Tapi aku rasa itu karena... yah, you know what I mean, right? Youabsolutely know what I mean

lols :P

Sebenarnya aku sudah selesai menjelajah Bangkok: The Journal ini kemaren malem. Udah gatel aja tangan pengen ngidupin laptop terus nulis review deh di goodreads. But well, sudah terlalu malam. Bayang-bayang kesibukan hari Senin yang ribet bikin aku urung menulis review dan menundanya sampai pagi ini. Untungnya sih hari ini masuk jam sebelas jadi yaaaah masih ada waktu santai di rumah :P hihi

Jujur aja aku baru 2x baca novel karya kak Moemoe Rizal. Fly To The Sky sama Bangkok: The Journal ini. Dulu sempat mau beli Jump cuma kepicut duluan sama Terpesona, jadi batal deh.walau sekarang sebel banget ga jadi beli Jump malah beli Terpesona ya isinya mengecewakan. TAPI, meskipun baru baca dua novel kak Moemoe, aku bisa langsung menemukan khas penulisannya. 

Dilihat dari plotnya sih oke-oke aja. Karakter para tokohnya juga kuat, yah walaupun aku ga bisa merasakan chemistry antara Edvan dan Charm. Tapi hubungan afeksi antara Edvan dan Edvin yang paling aku suka di novel ini. Kata-kata family help family itu entah kenapa ya rasanya menyentuh sekali :') konflik keluarga di novel ini berhasil bikin aku nyaris nangis berkali-kali. Berat pasti rasanya jadi Edvan si tukang narsis itu. 

Sebenarnya aku berharap bisa ngasih empat bintang sama novel ini. Tapi ya itu, chemistry antara Edvan dan Charm ga aku rasain. Yang artinya aku ga merasa kalo mereka berdua itu seharusnya jadi sepasang kekasih seperti Leonardo dan Felice di novel Roma kebiasaan kan banding-bandingin buku kamu mah cha. Dan, bintang yang kelima itu emang ga pernah aku sentuh. Pasalnya, aku 'menganut' kepercayaan tidak-ada-novel-yang-sempurna, jadi bintang kelima itu ga pernah aku kasih ke buku mana pun *iya kan ya? sial, gue lupa lagi*

Kayak di novel Restart, di sini juga ada sedikiiiiiit hubungan sama novel Fly To The Sky. Cuma sekilas sih tapi jadi bagian terpenting di novel ini juga. 

Pas di halaman 210 itu sangat mengingatkan aku waktu pertama kalinya aku ngampus *OSPEK*. Rasanya tuh persis kayak yang dijabarin Edvan. Pengen nangis karena homesick tapi ga bisa karena merasa udah jadi orang (beranjak) dewasa. Waktu nyasar di Jakarta kepengennya nelepon Mama ato orang rumah di Bogor. Tapi kan ga mungkin juga gitu ya aku nelepon terus minta jemput yang jarak jauhnya kebangetan gitu. Akhirnya sama kayak Edvan, aku nelepon temen cuma buat bilang "Gue nyasar". 

Di halaman 282 waktu Edvan bilang 'ucing sumput' aku sontak ketawa ngakak. Beneran deh, sunda banget nih orang :P apalagi dia ngomongnya sama gadis Thai yang ga tau apa itu artinya 'ucing sumput'. Ya ampun.......

Aaaaaand, holy shit deh sama apa yang terjadi di halaman 326. Aku cuma bisa bergeming aja gitu bacanya terus WHAT-THE-HELL-WAS-THAT yang keluar dari mulutku pertama kali.Bromance maksudku, brotherhood antara Edvan dan (ups spoiler) bener-bener bikin aku gemas. Lebih cocok ke bromance ga sih? *di keplak kak Moemoe* *sok kenal amat gue* *yaudah sih kebanyakan tanda bintang jadi pusing*

Oh ya, kalo di novel Roma-nya kak Robin banjir quote, di novel ini juga aku nemu banyak quote. Yah, kalo quote-quote di awal bab sih aku sering nemu di brainyquote.com. Tapi aku sukaaaaaaa banget sama quote-quote yang tersirat di dalam cerita. Kayak misalnya,

Mendoakan orang nggak boleh ada 'tapi'-nya


Karena pada dasarnya, aku nggak sendirian. Aku masih punya keluarga


Dan, masih banyak lagi :))

SO, novel ini nggak mengecewakan. Sesuai dengan ekspetasiku walaupun kurang gregetnya dikit. Aku sih berharap kak Moemoe bakal bikin cerita tentang Stevan :P he's adorable btw hihi 

Yah, pengennya sih langsung 'terbang' lagi ke Melbourne, tapi apa daya. Dompetku sedang terjangkit krisis ekonomi. Jadi yah, kudu jemput rezeki dulu deh hehe

สวัสดีค่ะ--sawatdee kha!

♥Best Regards♥ 

Jumat, 31 Mei 2013

Review: Roma: Con Amore by Robin Wijaya



4 of 5 stars

"Tidak, Leo. You just think that you're in love. But in fact, it's not!"
"I don't think, I'm in love. But I know, I'm in love! With you, Felice..."

Jelaslah ya kalo laki-laki itu ga semuanya mementingkan logika. fufufufu. 

Roma: Con Amore karya kak Robin Wijaya adalah novel STPC kedua yang aku baca setelah Paris: Aline. Sebenarnya aku kepengen langsung baca novel ini dulu sebelum Paris. Tapi pas ngeliat harga novelnya yang oh-my-God-so-expensive akhirnya aku harus memasukkan novel ini ke waiting list bersama Bangkok: The Journal. 

But, hei rezeki emang bisa datang kapan aja. Novel ini kebeli juga akhirnya :D

So, about the book.

Covernya oke. Meskipun itu udah ga aneh lagi mengingat cover novel-novel gagasmedia ga pernah ada yang mengecewakanku (sejauh ini). Whoa, gagasmedia emang punya kru yang keren banget :) Warna covernya adem walaupun sebenarnya sih agak sendu-sendu gimana gitu ya. Tapi, sesuai kok sama isi novelnya hihi :P

Novel ini penuh dengan quote-quote sederhana yang menyentuh. Yah, kak Robin emang seorang pemulung quote (ada di profil halaman paling belakang) dan di akun twitter mau pun facebooknya pun selalu banjir sama quote-quote cantik. Jadi, ga heran kok kalo novel ini dipenuhi quote-quote menyentuh :D

Dari halaman pertama sampe Felice pulang ke Indonesia itu sebenarnya agak boring buatku. Rada males aja gitu karena belum masuk ke inti cerita. Terlalu banyak tell sih emang, tapi menurutku itu fine-fine aja. Pasti akan jadi sangat panjang kalo setiap bagian harus di show :) but, I enjoy it. 

Pangeran di dalam novel ini bernama Leonardo Halim. Maestro dari Indonesia yang mengidolakan Michelangelo. Dan, Felice diberi kehormatan menjadi 'permaisuri' di sini. Oh, tentu saja pangeran dan permaisuri ini punya jalan cinta yang unik. Perjalanan yang menurutku, ehm, sedikit menyebalkan.

Kenapa?

(ga bisa dijelasin, soalnya spoiler :p)

Aniwey, plotnya berjalan lancar. Mengalir seperti air. Penokohannya juga bagus, tidak terlalu kuat tapi ga terlalu lemah juga. Chemistry antara Leonardo dan Felice lebih terasa daripada Sena dan Aline di novel Paris. Tapi bukan berarti novel Paris jelek lho. Hanya lebih terasa pada Leonardo dan Felice :D Penjelasan mengenai latar kejadian juga alhamdulilah yah ga ngebingungin huehehe sekalian 'mengajak' aku keliling Roma juga :)

Ngemeng-ngemeng nih kenapa sih dialog antar tokohnya kok baku kak Robin? Kenapa ga dibikin euh lebih biasa kayak orang-orang Indonesia ngobrol? Kalo misalkan panggilannya 'saya-kamu' sih ga masalah. Tapi yah...

Intinya, aku suka novel ini. Terlepas dari dialog yang baku, aku menikmati Roma pada novel ini. Oh ya, aku juga berterima kasih kak Robin sudah menciptakan seorang wanita tangguh seperti Marla :) suatu hari aku harus seperti dia. Yang punya hati lapang, pikiran dewasa, dan tau kapan dia harus mundur dari kehidupan orang lain :') 

Merelakan orang yang dicintai untuk orang lain itu sakit lho. Tapi yah, inget-inget aja deh kalo orang yang tertulis di hatimu belum tentu tertulis di buku nikahmu (ayey!) 

Tambahan aja nih. Aku lebih suka sama proyek STPC gagas daripada Gagas duet sebelum ini. Ga berarti gagas duet jelek juga, cuma kan kalo dua penulis yang punya gaya penulisan berbeda di dalam satu buku itu rasanya..., ga sreg aja gitu. Apalagi STPC ini di setiap novel ada post card nya :D tambah keren aja nih gagas haha 

Yah, jadi begitulah review dariku mengenai Roma: Con Amore. Novel ini lebih bagus daripada novel kak Robin yang Before Us. Lebih bagus. Artinya, Before Us udah bagus kan? 

Betewe, ada dua quote yang aku suka dari novel ini. 

Pertama,

Ada sesuatu yang mengganggu hatiku ketika kita bertemu. Aku melihat bayangan dia, tersimpan di balik tatapanmu


So deep. I know. 

Kedua, 

Rindu yang Tuhan ciptakan, adalah jarak terdekat di antara perpisahan


Ooooooh. So sweet :*

So, waktunya terbang ke Bangkok :D catch ya later!


♥Best Regards♥

P.S!
Waktu menulis ini, aku belum tau apa itu artinya Con Amore. Jadi, aku buka deh google translate dan mengetik Con Amore di sana. Ternyata artinya itu....

Cari sendiri ya! 

Senin, 27 Mei 2013

Review : Paris: Aline by Prisca Primasari



3 dari 5 bintang

This is a good book. But, not the best one. 

Hai, kak Prisca Primasari :) ini buku ketiga kak Prisca yang aku baca setelah Beautiful Mistake dan Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa. Tiga-tiganya punya karakteristik yang sama (yaiyalah, orang penulisnya sama!), menyentuh hati. But, somehow aku merasa ada yang kurang dari novel-novel kak Prisca. Sesuatu yang biasanya bikin aku geregetan sampe rasanya pengen benyek-benyekin buku. 

lols :D

Mari mereview dari sesuatu yang aku suka dari novel Paris: Aline ini :))

1) I Heart Ezra so much <3
Ga ngerti ya kenapa. Tapi sosok Ezra dari pertama kali muncul di halaman 16 dengan kalimat pembuka "Aline," , aku udah punya firasat kalo cowok ini bakal kebayang-bayang terus di kepalaku. Dan, emang bener. Sampai aku menulis review ini, Ezra masih berputar-putar di otakku sambil menyunggingkan senyum tulusnya hihi

2) The Emotion
Kak Prisca jago banget lho bikin pembacanya terharu sama tulisan-tulisannya. Apalagi pas bab EZRA (lagi-lagi dia) yang sedihnya ya Allaaaaaah~ bikin aku heran kenapa Aline mau melepaskan laki-laki itu begitu saja. 

3) The 'Fan-dabby-dozy' ending <3
SUKA BANGET! Endingnya ituh tuuuuh sesuatuuuh!

Buku ini jelas ga sempurna (tentu saja, ga ada novel yang sempurna). Dan, ada beberapa hal yang ga aku ngerti sama novel ini. 

Pertama, Aeolus Sena ga terdengar seperti orang Indonesia menurutku. Oh, oke. Kebebasan penulis emang buat bikin nama tokohnya sesuka hati. Mungkin aja Aeolus Sena memiliki arti yang bagus tapi akunya aja ga ngerti. Tapi tetep aja kan... huehehe

Kedua, aku merasa plotnya agak terburu-buru :( jadi aku sedikit euh, ga bisa mengkhayati gitu (cielah). Maksudku, Sena tiba-tiba hilang dan Ezra yang harus pergi ke Peru? Hem.

Ketiga, aku ga dapet chemisty antara Aline dan Sena sama sekali. Aku juga ngerasa karakter Sena kurang kuat aja di sini. Kalo Aline jelaslah ya soalnya dia jadi tokoh 'aku' di novel Paris. Tapi serius deh, aku gatau gimana ceritanya Aline jadi naksir Sena lho. Sori kak Prisca :(

Keempat, konfliknya menurut aku sih kurang jelas. Maksudnya, kurang penjelasan aja tentang keluarga Poussin dan urusannya dengan Sena. Apalagi pas bagian Aline yang dengan rela ngasih buku seharga empat juta dolar ke Madame Poussin, udah gitu tiba-tiba dipekerjakan di sana. Terusnya bisa bebas setelah Sena minta izin mau ngebeliin Aline makan.

Aku juga ngerasa kehadiran Putra di novel ini sebenernya ganggu. 

Yaaaaah. Biasanya emang gitu kelemahan POV orang pertama pelaku utama. Kisah tentang Sena yang akhirnya berhasil bebas dari keluarga Poussin pun cuma selewat gitu aja.

Pokoknya, novel ini kurang 'bumbu' buat aku. Entah itu garam atau gula atau vetsin atau...



OKE!

Over all novel ini bagus (apalagi covernya cakep punya plus post card pula). Dan, aku sama sekali ga nyesal udah beli dan baca novel ini. Kak Prisca mengajarkan tentang cinta yang butuh pengorbanan lewat novel Paris. Terdengar cheesy emang, tapi itu yang aku tangkap dari Paris. 

Kalo orang bilang cinta itu adalah kebahagiaan, berarti nemu uang 100ribu di jalan itu cinta haha tapi menurutku sih cinta itu lebih mengarah ke suatu rasa yang membuatmu sakit tapi kamu dengan bodohnya malah mempertahankannya. 

Ribet emang kalo udah ngomongin cinta =____=

Oh ya! Cuma mau ngasih info dikit aja nih kak Prisca. Di halaman 96 yang Sena manggil 'Mon Ami' ke Aline. 'Mon Ami' emang punya arti 'teman saya'. Tapi 'ami' di sini artinya laki-laki. Jadi, 'mon ami' itu artinya teman saya yang berjenis kelamin laki-laki. Sementara Aline itu perempuan kan ya huehehe harusnya sih seingatku pakenya 'Mon Amie'. Anggaplah ya 'e' nya ga ke ketik ato kehapus gimana gitu ya haha :P

Okeeeh segitu aja kali ya reviewnya (segitu? banyak kaleee). lols. so sorry kalo banyak ngomong dan kayaknya aku sok tau banget gitu ya ngomentarin novel kak Prisca yang udah nerbitin tiga buku ckck 

Mohon maaf kakak kalo ada kata-kata yang nyakitin hati ato gimana :( ga maksud ngejelekik kok! cuma jujur ga ada salahnya kan? huehehe

Aku tetep nunggu novel karya kak Prisca selanjutnya kok :) 

Well, akhir kalimat (karena kata terlalu mainstream haha),

"Il n'y a qu'un bonheur dans la vie, c'est d'aimer et d'être aimé." -- There is only one happiness in life, to love and be loved (George Sand).

♥Best Regards♥


P.S!
Sampe detik ini aku gatau gimana cara menyebut nama Sévigne :| 
dan apa yang dilakukan Olivher di halaman 161 itu...... *pingsan*